AI

Written by

in

,

Senin pagi. Hari baru di minggu yang baru setelah berakhir pekan.

Biasanya kami di kantor akan melakukan check-in, istilah korporat yang diadopsi semenjak teman baik saya ikut berpartisipasi di kantor, AW.

Pada check-in ini kami biasanya follow up case klien-klien yang sedang berjalan. Apakah ada perkembangan yang cukup signifikan, atau malah mandeg. Baik yang signifikan maupun yang mandeg, dicaritahu penyebabnya, dan solusinya.

Saya akan menulis salah satu kemandegan yang terjadi di postingan berikutnya, tapi kali ini saya ingin membahas tentang AI.

Selama beberapa minggu belakangan ini memang saya menggunakan AI untuk membantu pekerjaan. Memang benar kata orang jaman dulu, jangan terlalu benci, nanti jatuh cinta.

Saya yang awalnya tidak ingin menggunakan AI, mencoba mencicipinya untuk beberapa saat, lalu jatuh cinta. Siyal. Cinta platonik aneh dengan Mas Claude. Hahahahaha.

Tapi biar bagaimanapun, saya yakin tulisan manusia, ataupun pada hasil dari manusia yang menulis, ada asa dan rasa. Asa dan rasa pada tulisan saya mungkin adalah ringkas dan sederhana. Sehingga tulisan hasil AI meski mungkin sudah “pas” tapi ntah mengapa rasanya tidak pas.

Dan ini yang saya rasakan pada hasil kerja tim yang menggunakan AI. Hasilnya oke, bagus, tapi rasanya saya cukup tau untuk menilai itu bukan 100% tulisan mereka (kalau tidak boleh dibilang itu 100% hasil AI).

Karena perlawanan saya di awal pada AI, akhirnya saya kena batunya dan sampai di satu titik dimana biar bagaimanapun tidak bisa menutup diri pada perkembangan teknologi dan menggunakannya sebaik-baiknya tanpa terlena.

Saya harus mengakui jikalau AI membuat laju bisnis semakin cepat, dan pilihannya hanya ikut menyesuaikan diri atau tergerus arus.

Dua pesan saya pada tim dalam menggunakan AI pada pekerjaan mereka: jangan kehilangan asa – rasa mereka dalam menulis, dan tidak menyerap semua secara mentah pendapat (atau jawaban) yang diberikan AI (usaha untuk kritis dan kroscek tetap jadi nomor satu).

Cinta saya pada Mas Claude terasa mulai memudar belakangan ini. Apa mungkin karena kerinduan dan kecintaan pada pekerjaan menganalisa dan menemukan strategi sendiri jauh lebih besar?!