Author: YunA

  • Bella

    Sore kemaren terjadi kehebohan di kantor.

    Ada seekor biawak di toilet. Berhubung kantor isinya perempuan semua, tentu aaja kita tidak cukup berani untuk mengecek ke dalam kamar mandi dan mengusirnya.

    Hingga akhirnya dua orang anak kantor mencoba mendekat dan menggedor pintu toilet.

    “Huaaaaa…” teriak mereka bersamaan sambil berlari takut.

    Padahal kalau dipikir-pikir, kalau saya jadi biawak, saya harusnya takut pada mahluk berakal, berbudi pekerti, dan karnivora bernama manusia. Ya ga sih?!

    “Bukan biawak yang keluar, anak anjing tuh!”, kata salah satu tim lainnya.

    Ternyata anak anjing (baru) dari kantor sebelah.

    “Siapa namanya?”, tanya saya.

    “Bella!”, jawab Mbak dari kantor sebelah.

    “Lah, cewek?”, komentar saya.

    “Yah kalau cowok ga akan dibuang,” timpal si Mbak.

    Seketika kami kecewa dan masuk ke kantor.

  • Kemajuan kecil

    Hari ini hari ke-dua saya bermeditasi (lagi).

    Ini salah satu kelemahan saya yang perlu saya perbaiki: tidak konsisten.

    Tapi rasanya cukup menyenangkan kembali bermeditasi lagi meski masih jauh daripada yang dulu pernah saya lakukan.

    Kemaren saya hanya sanggup duduk diam 5 menit saja, hari ini 8 menit.

    Dalam 80% dari waktu duduk diam itu, saya menemukan diri saya tidak fokus; berpikir ini itu kesana kemari.

    Golnya kali ini memang baru hanya untuk duduk diam dan sadar, karena beberapa tahun belakangan saya lebih banyak auto-pilot: flight; ketimbang fight.

    Belum, hari ini belum olahraga lagi. Semoga nanti sore akan terlaksana.

    Karena kemajuan kecil, adalah kemajuan. 😉

  • Hari 1 – berolahraga (lagi)

    Penyakit pekerja jaman now: kurang berolahraga.

    Saya lebih parah lagi: tidak berolahraga.

    Hari ini hari pertama mencoba salah satu gerakan olahraga di kanal youtube.

    Berhasilkah? Dari 3 set yang dianjurkan, sy hanya bisa 1 set.

    Itupun hanya bisa setengahnya saja; gerakan yang harusnya dilakukan 1menit, hanya sanggup saya lakukan 30 detik (tanpa mengeluh)

    Saya membuat excuse: daripada besok saya kapok, lebih baik buat lebih ringan; seperti kata-kata motivasi di sosial media (dan juga di buku).

    Kalau tidak bisa olahraga 30 menit; coba 15menit. Kalau tidak bisa 15 menit; coba 5 menit. Kalau masih tidak bisa 5 menit; coba 1 menit.

    Iya, sepertinya saya jago bikin alasan.

    Lalu, setelah duduk diam 1 jam; saya mencoba jongkok bangun.

    Berat badan saya naik 3 kilo; dan saya ada undangan menghadiri perkawinan akhir pekan ini; saya harus tampil oke di dress pilihan saya.

    Jadi mari coba jongkok bangun untuk mencapai tujuan ini.

    Saya ingat, jongkok bangun ini adalah makanan sehari-hari saya ketika duduk di bangku sekolah di SMA 3 Denpasar.

    Salah satu exercise harian.

    Dan, saya hanya sanggup melakukan 5x jongkok bangun.

    Siyal.

    Saya akan update besok apakah saya bisa berolahraga lagi di hari ke-2.

  • Apa?

    Ada demo di Jakarta. Terkait banyak hal. MBG, harga kebutuhan pokok yang naik, hulunya sama: tata kelola negara yang buruk.

    Tapi, sayangnya tak banyak berita yg bisa kita lihat.

    Rasanya aneh ketika sy bilang tak banyak ketika saya tidak punya tv untuk menonton berita, membatasi waktu mengakses sosial media; lalu dr mana saya akan dapat berita soal demo ini.

    Ntah apa yg bisa kita lakukan sebagai warga individual tanpa kekuasaan.

  • D today

    “Mah, dedek boleh ga keriting kayak kakak?”

    Setelah bertahun-tahun meyakinkan kakak kalau rambut keritingnya istimewa, siapa sangka si adik yang berambut lurus jadi ikut terpengaruh.

    =================

    “Mah., maaf ya dedek kemaren ga lihat mama”

    Saya yang seharian tidak bisa bertemu dia karena harus berangkat kerja pagi sebelum dia bangun, dan baru pulang ketika dia sudah tidur; tapi justru saya pula yang menerima permintaan maaf.

  • Bermain layangan

    Saya ingin bermain boneka. Rasanya kamu tidak ingin bermain boneka. Atau, tidak serius bermain boneka.

    Saya bertanya-tanya, akankah berbeda, bila ini adalah layang-layang.

    Rasanya, saya ingin serius bermain layang-layang.

    Ini bukan tentang boneka. Bukan juga tentang bermain.

  • E today

    “Mah, orang ga bisa hamil karena apa? Kurang nutrisi?” Tanya E pagi ini saat berangkat sekolah.

    “Mungkin, tapi masih banyak faktor penyebab lainnya,” jawab saya.

    “Orang yang ga punya anak, sedih?” tanyanya lagi.

    “Kalau dia ingin punya anak, ya pasti sedih. Tapi ada juga yang biasa aja,” jawab saya.

    “Kenapa Tuhan ga kasih aja anak ke semua orang yang ingin punya anak?” tanyanya lagi.

    “Banyak hal di dunia ini yang terjadi seringkali tanpa ada alasannya, ya memang begitu aja,” jawab saya.

    Talk is cheap.

    Ntah sudah berapa banyak momen terlewati, dan masih harus kita lewati, yang akan membuat kita bertanya,

    “Kenapa (terjadi pada) aku?!”

    “Kok bisa begini?!”

  • Ketika uang menambah kesengsaraan

    Teman baik saya sedang sibuk menemani kakaknya, yang sedang berduka. Suami kakaknya sudah sakit keras selama 8 tahun terakhir, bahkan sudah tidak bisa bangun dari tempat tidurnya dan makan dengan normal sejak 3 tahun terakhir.

    Selama 3 tahun terakhir secara periodik terbang ke negeri yang konon teknologi pengobatannya maju, tapi tetap tidak ada kemajuan atau kesembuhan.

    “Kalau bukan orang mampu, belum tentu masih hidup sampai sekarang,” kata saya.

    Seringkali, kekurangan uang, berdampak pada kesengsaraan. Baru kali ini, secara riil, saya bertemu kesengsaraan yang terjadi justru karena uang berlimpah.

    Ketika hidup adalah berkah, namun apakah hidup tanpa merasa hidup, masih tetap menjadi berkah?

  • Obat menyalahi kodrat

    Malam itu saat pulang kerja, saya mendapati anak saya demam.

    “Dedek demam dari tadi pagi, Mah,” kata kakaknya.

    Mereka memang menginap di rumah nenek kakeknya semalam.

    “Tapi dedek sudah minum obat, enak lho mah, lasa jeluk,” kata si Adek cadel.

    Waduh. Ternoda sudah doktrin saya soal obat tidak enak.

    Saya langsung cek apa nama obat menyalahi kodrat yang diminum anak saya. Blacklist!

    Saya memang sedari anak-anak saya masih kecil justru menyukai obat yang pahit diresepkan untuk mereka.

    “Yang namanya obat, memang tidak enak. Kalau enak, semua orang jadi pengen atau betah sakit,” kata saya.

    Syukurnya, mereka bukan anak-anak yang sulit minum obat (atau mungkin mamanya lebih angker daripada kuburan saat menyuruh minum obat, kemungkinan ini hanya bisa dipastikan saat mereka nanti sudah agak besar).

    Saat menjelang flu (tenggorokan sakit atau hidung agak meler), mereka akan langsung meminta dibuatkan jamu kunyit.

    Sepertinya jamu, terasa lebih enak daripada obat plus intimidasi mamanya.

  • Rencana Tuhan yang konon selalu lebih baik

    Saat saya hamil salah satu anak saya, yang diprediksi lahir awal Juni atau akhir Mei, pikiran saya terbelah dua.

    Senang, karena banyak pemimpin dunia yang terlahir di bawah rasi bintang Gemini.

    Galau, karena saya dibesarkan orang tua dengan rasi bintang yang sama, dan rasanya cukup susah untuk menjalin hubungan – fyi, anak2 saya pada akhirnya lahir di bawah rasi bintang yang sama dengan kedua orang tua saya, Libra dan Gemini.

    Pada kenyataannya, hubungan orang tua dan anak tidak akan pernah mudah, mungkin tidak ada hubungannya dengan rasi bintang, tapi mungkin, kalau berada di bawah kategori rasi bintang yang sama, bisa sedikit lebih mudah.

    Karena saya berzodiak scorpio, masuk kategori water sign; bagi saya agak cukup sulit berkompromi dengan orang-orang dari kategori air sign: aquarius-libra-gemini.

    Ibarat melihat perdebatan antara diver pengagum keindahan dasar laut dengan snorkeller penakut yang lebih suka mengagumi keindahan bawah laut dari permukaan saja (dalam case ini: saya)

    Keduanya punya point of view yang valid dan tidak perlu dipaksakan pada kelompok lainnya.

    Lalu, saya mulai BM-banyak mau.

    “Wah, kalau bisa lahir tanggal 1 Juni, dirayakan seluruh Indonesia, barengan sama hari lahir Pancasila”, batin saya.

    Kenyataannya, anak saya lahir satu hari setelah Hari Lahir Pancasila.

    Tidak bisa kecewa, karena konon sama dengan hari lahir Tan Malaka.