Malam itu saat pulang kerja, saya mendapati anak saya demam.
“Dedek demam dari tadi pagi, Mah,” kata kakaknya.
Mereka memang menginap di rumah nenek kakeknya semalam.
“Tapi dedek sudah minum obat, enak lho mah, lasa jeluk,” kata si Adek cadel.
Waduh. Ternoda sudah doktrin saya soal obat tidak enak.
Saya langsung cek apa nama obat menyalahi kodrat yang diminum anak saya. Blacklist!
Saya memang sedari anak-anak saya masih kecil justru menyukai obat yang pahit diresepkan untuk mereka.
“Yang namanya obat, memang tidak enak. Kalau enak, semua orang jadi pengen atau betah sakit,” kata saya.
Syukurnya, mereka bukan anak-anak yang sulit minum obat (atau mungkin mamanya lebih angker daripada kuburan saat menyuruh minum obat, kemungkinan ini hanya bisa dipastikan saat mereka nanti sudah agak besar).
Saat menjelang flu (tenggorokan sakit atau hidung agak meler), mereka akan langsung meminta dibuatkan jamu kunyit.
Sepertinya jamu, terasa lebih enak daripada obat plus intimidasi mamanya.