Saat saya hamil salah satu anak saya, yang diprediksi lahir awal Juni atau akhir Mei, pikiran saya terbelah dua.
Senang, karena banyak pemimpin dunia yang terlahir di bawah rasi bintang Gemini.
Galau, karena saya dibesarkan orang tua dengan rasi bintang yang sama, dan rasanya cukup susah untuk menjalin hubungan – fyi, anak2 saya pada akhirnya lahir di bawah rasi bintang yang sama dengan kedua orang tua saya, Libra dan Gemini.
Pada kenyataannya, hubungan orang tua dan anak tidak akan pernah mudah, mungkin tidak ada hubungannya dengan rasi bintang, tapi mungkin, kalau berada di bawah kategori rasi bintang yang sama, bisa sedikit lebih mudah.
Karena saya berzodiak scorpio, masuk kategori water sign; bagi saya agak cukup sulit berkompromi dengan orang-orang dari kategori air sign: aquarius-libra-gemini.
Ibarat melihat perdebatan antara diver pengagum keindahan dasar laut dengan snorkeller penakut yang lebih suka mengagumi keindahan bawah laut dari permukaan saja (dalam case ini: saya)
Keduanya punya point of view yang valid dan tidak perlu dipaksakan pada kelompok lainnya.
Lalu, saya mulai BM-banyak mau.
“Wah, kalau bisa lahir tanggal 1 Juni, dirayakan seluruh Indonesia, barengan sama hari lahir Pancasila”, batin saya.
Kenyataannya, anak saya lahir satu hari setelah Hari Lahir Pancasila.
Tidak bisa kecewa, karena konon sama dengan hari lahir Tan Malaka.