Author: YunA

  • Pengacara S1

    Orang sering menganggap profesi pengacara sebagai profesi yang bergengsi, keren gitu. Tapi sama seperti profesi atau pekerjaan lainnya, profesi inipun masih sering direndahkan oleh orang lain.

    Bisa karena pembawaannya, murni karena profesinya, atau seperti yang saya (dan rekan saya) alami baru-baru ini, karena kualifikasi kami yang hanya S1.

    “Yah., namanya juga Pengacara S1”

    Kurang lebih begitu pernyataan orang tersebut menuding saya dan rekan saya.

    Orang itu adalah seorang akademisi yang didapuk untuk menjadi saksi ahli oleh lawan dalam perkara klien saya.

    Keterangan-keterangan yang disampaikannya jauh dari kesan ilmiah. Hal ini yang membuat saya garuk-garuk kepala saking desperatenya, gesture mana yang kemudian dianggapnya tidak sopan dan mentrigger pernyataan di atas.

    Saya mungkin salah, tapi saya yakin betul kesalahan saksi ahli bergelar profesor dan pengajar di Universitas di area Tanjungbungkak Denpasar berinisial JI ini jauh lebih besar.

    Setelah dipikir-pikir, saya tidak marah atas pernyataan tersebut. Saya memang benar pengacara, dan memang benar hanya menimba ilmu hingga jenjang S1.

    Tapi, kok rasanya saya tetap keki.

    Saya keki karena pernyataan tersebut terkesan mendiskreditkan status S1, seolah-olah status ini tidak ada artinya.

    Lebih keki lagi karena yang berbicara adalah seorang professor, seorang “guru”, seseorang yang sepatutnya ditiru dan digugu.

    Saya baru sadar ternyata bergelar tidak sama dengan terpelajar. Sepertinya lebih baik tidak bergelar, tapi terpelajar; daripada bergelar tapi tidak terpelajar.

  • Alat rumah tangga yang semakin berteknologi tinggi

    Di rumah ada mesin cuci baru.

    “Ga ada suaranya, Mah,” kata anak saya memberi laporan lewat aplikasi perpesanan saat bapaknya langsung mencoba mesin cuci baru itu.

    Merknya bukan Samsung, Electrolux, LG, ataupun Sharp, tapi Xiaomi. Rasanya agak ga nyaman aja mendengar merek hp memproduksi home appliances.

    “Eh, jangan salah, Magic Com aku juga merek Xiaomi. Mesin cuci itu pasti bisa dinyalakan pakai Wi‑Fi deh, kayak Magic Com aku,” kata Ayu, teman baik saya, menimpali cerita soal mesin cuci ini saat makan siang.

    “Hah, magic com ada wifinya, untuk apa?” tanya saya heran.

    “Ya, biar bisa nyalain pas lagi tidur-tiduran”, jawabnya.

    “Ya, tapi kan berasnya tetap harus kamu cuci dan masukin manual, kan?! Terus Wi‑Fi itu menggantikan peran kamu nge-klik tombol Cook, gitu?!” komentar saya.

    “Harusnya jangan setengah-setengah ya, kalau berinovasi. Sekalian mestinya ada tangki air dan beras, jadi bisa masukin beras, cuci beras, masak, terus kalau nasinya abis bisa cuci wadahnya dan siap untuk mencuci dan memasak nasi lagi?! Gitu kali ya,” kata Ayu sambil tertawa.

    Saya tidak sanggup membayangkan Magic com super modern yang mungkin akan sebesar dispenser air karena harus ada tangki air sekian liter dan wadah beras untuk sekian kilogram. Bukan tidak mungkin, karena ada mesin untuk membuat susu formula bayi dengan cara kerja yang serupa.

    Lama-lama, kemampuan memasak nasi dengan cara mengukus menggunakan dandang akan punah.

  • Mengapa menulis ketika tidak ada yang membaca?!

    Saya cukup terusik pada salah satu scene di film seri Korea, We Are All Trying Here, di mana saat itu kakak pemain pria utama, konon adalah penyair puisi yang banting setir menjadi pekerja serabutan berkata ketika menulis ada harapan untuk di baca.

    Sedangkan saya di sini, menyatakan menulis seperti tidak ada yang membaca.

    Rasanya naif ketika saya membuat blog ini tapi tidak ingin ada yang membacanya.

    Tapi, keinginan terbesarnya adalah untuk menulis tanpa ada beban takut tidak sempurna, takut tidak sesuai fakta (meski bukan hoax-hanya saja mungkin sedikit tidak akurat), takut tidak bagus, takut tidak mendapatkan apresiasi.

    Seperti kata-kata demotivasi yang biasa dilontarkan akun Instagram pembuat furniture custom, sebatproject,

    “Tidak perlu takut miskin, toh kamu memang sudah miskin”

    Hahahahaahhaha

    Mungkin seperti itu juga perasaan saya, untuk apa merasa takut tulisan saya tidak bagus, kalau toh memang tidak bagus.

    Anggap saja blog ini media saya untuk mengasah kemampuan menulis santai dan bebas, yang tidak selepas orang lain karena terlalu sering menulis dokumen hukum formal ataupun surel formal untuk klien.

  • Saya menyerah pada media sosial (jejaring interaktif)

    Dan mungkin, blog ini adalah pelarian saya.

    Dulu, rasanya mudah sekali ketika menghapus aplikasi Twitter. Saya lebih sering merasa tenggelam dan merasa kecil, ketika masuk aplikasi Twitter., ketimbang merasa tercerahkan atau lainnya.

    Kemudian, cukup berat saat menghapus akun Facebook sekaligus aplikasinya (akun saya saat ini adalah akun baru).

    Yang berat, karena waktu itu saya cukup keranjingan membeli barang-barang secondhand di Facebook. Maklum, saya sedang menempati rumah kontrakan dan perlu diisi meski kondisi keuangan tidak terlalu stabil. Saat itu juga, awal-awal saya resign dari pekerjaan kantoran karena ingin membersamai tumbuh kembang anak sulung saya, dan acara-acara untuk anak prasekolah dapat dengan mudah ditemukan di Facebook.

    Tapi rasa berat itu kalah oleh ketidaksanggupan saya melihat perseteruan teman-teman saat perhelatan Pilkada Jakarta, di mana Ahok adalah salah satu kandidatnya. Lebih tepatnya, saya tidak sanggup melihat kebodohan orang-orang yang berdebat.

    Karena tahu saya cukup bodoh dan mudah terperangkap dalam candu media sosial, saya sama sekali tidak menggunakan Tiktok.

    Tidak dengan Instagram. Hubungan love and hate saya dengan Instagram cukup pelik. Entah sudah berapa kali di-uninstall dan di-reinstall. Kali ini (sejak Maret 2026), putusnya hubungan kami cukup serius. IHIY!!!!

    Screenshot

    Tapi, saya harus punya pengganti. Kalau tidak, siklus uninstall dan reinstall akan terulang.

    Saya memilih Netflix.

    Saya bukan fans berat film. Kecuali film berseri. Iya, film seri Korea.

    Saya pikir beralih ke Netflix akan lebih baik untuk memperluas rentang perhatian dari “kecanduan” Reels 60 detik Instagram ke film berseri dengan durasi minimal 50 menit.

    Cukup menantang, karena saya masih sempat merasa cepat bosan dan menaikkan kecepatan putar menjadi 1,25–1,5x.

    Hingga terakhir, saya menonton “We Are All Trying Here”, yang sedang ditayangkan. Artinya saya bisa mencegah diri dari menonton seluruh seri film secara maraton dan harus sabar menunggu episode selanjutnya yang tayang minggu berikutnya.

    Buat saya, film ini bagus, dan saat menontonnya, saya jadi memandang hina film cinta menye-menye, hahahaha. Saya lalu memutuskan film “We Are All Trying Here” menjadi film seri terakhir yang akan saya tonton sebelum puasa (setidaknya saat ini dan selama beberapa tahun ke depan, seperti yang sudah-sudah) dan tidak menonton film seri lain.

    Screenshot

    Kira-kira sampai kapan saya bisa detox dari media sosial? Nanti saya update di sini. Doakan yang panjang ya. Terima kasih. 🙂

  • Istimewa, apa adanya.

    Beberapa waktu lalu, saya menonton podcast Raditya Dika bersama dr. Tirta dan dr. Gia. Sebagai orang yang berhenti mengagumi sosok orang sejak Aa Gym berpoligami,

    ditambah lagi menonton podcast sama sekali bukan kesenangan saya, saya menonton bukan karena ngfans sama salah satunya atau semuanya. Iseng saja.

    Yang cukup menarik adalah mendengar satu pernyataan dari dr.Gia soal kecilnya peluang kita (manusia) hidup di dunia ini—ada di menit 40 (kalau mau langsung nonton dan dengerin percakapan soal ini). Kalau peluang manusia mati adalah 100%, peluang manusia hidup itu hanya 0,000000…1 (ntah berapa banyak nol).

    Ketika hamil anak pertama, saya cukup rajin membaca beberapa buku tentang kehamilan dan parenting. Salah satu inti buku yang cukup membuat terpana adalah bahwa setiap anak istimewa, karena merupakan hasil dari pertemuan satu sel sperma dan satu sel telur. Satu sel spermanya berasal dari puluhan juta sperma yang bersama-sama mengarungi perjalanan di dalam organ reproduksi wanita. Persis seperti apa yang dibicarakan dr. Gia.

    Satu banding tiga hingga empat puluh juta sel sperma.

    KEREN BANGET KAN?!

    Sedemikian istimewanya seorang manusia.

    Jadi, semua manusia yang hidup di dunia ini, yang kita temui sepanjang hari mulai dari membuka mata sampai menutup mata, semuanya adalah produk istimewa.

    Tanpa perlu merasa istimewa, atau mendapat perlakuan istimewa, atau menginginkan perasaan diistimewakan; kita sudah istimewa sejak awal.

    Dan, semua itu kemudian membuat saya berpikir. Ketika semua orang istimewa, bukankah berarti menjadi istimewa adalah hal yang biasa saja?!

    Setiap dari kita, istimewa dan biasa saja pada saat yang bersamaan.

  • Penutup mata, Dewi Iustitia

    Anak sulung saya membuat custom mug, untuk diberikan pada gurunya, di akhir tahun ajaran ini.

    Sebagai orang dengan lima love language, yang menjadikan memberi barang kepada orang lain sebagai hobi, saya tetiba ingin membuat custom mug untuk kantor.

    Pertanyaan berikutnya, mau didesain apa ya?!

    Akhirnya mencoba mencari inspirasi dengan menggoogling.

    Lawyer quote, ketik saya di mesin pencarian.

    Beberapa gambar berisi petikan-petikan kalimat muncul. Dan salah satunya membuat saya terdistraksi.

    “The good lawyer knows the law, the clever one knows the judge”

    Sebagai (mungkin) satu-satunya lawyer yang aktif beracara (atau dalam bahasa sederhana: bersidang) di Pengadilan Negeri Denpasar namun tidak ingat satupun nama hakim yang bertugas di sana, saya cukup tersindir.

    Apakah saya sungguh bukan lawyer yang pintar?!

    [walau saya cukup heran, kenapa saya tersindir, di saat saya lebih suka kata cerdas (atau intelligent) ketimbang pintar (clever) untuk menggambarkan kualitas diri seseorang]

    Saya memang sempat mempertanyakan kenapa saya tidak mau repot menghafal nama hakim ketika sebagian besar teman lawyer saya cukup fasih menyebut nama hakim yang sidang hanya dengan satu kali lirik.

    Saya yang sedari awal tidak merasa itu hal yang cukup penting, mulai bertanya, “apakah penting untuk mengetahui nama mereka?”; “apakah penting untuk menjalin atau mencari kedekatan dengan mereka?”

    Buat saya, mereka hanyalah petugas dengan tanggung jawab besar, petugas mana dipersamakan dengan Tuhan di muka bumi, dalam satu dari sekian banyak teori di ilmu hukum.

    Apakah saya harus mengenalnya? Apakah saya harus menyembahnya?

    Lalu saya ingat Dewi Iustitia, Dewi Keadilan yang memegang timbangan dan pedang menghadap ke bawah, yang juga memakai penutup mata.

    sumber: hukumonline.com

    Saya tetap tidak merasa perlu menghapal nama-nama hakim itu, meski kemudian dianggap tidak clever.

  • Ketika telur HARUS ada, tapi ayam(nya) belum lahir

    Ada pertanyaan tak berujung yang sangat terkenal, lebih dulu ayam atau telur?

    Beberapa tahun yang lalu rasanya saya sempat membaca kalau akhirnya pertanyaan ini bisa dijawab secara ilmiah: ayam lebih dahulu ada, karena ada zat pembentuk telur yang hanya ada pada seekor ayam. Ya anggaplah begitu, yang menulis blog ini kan pengacara, jadi tidak bisa terlalu menjelaskan secara rinci soal ini.

    [Walau saat saya mengetik ini dan googling lebih dulu telur atau ayam? Gemini, yang suka muncul di paling atas jawaban Google, menjawab telur duluan. Terserah ah]

    Yang saya mau bahas sebenarnya adalah tentang pendirian suatu perusahaan di Indonesia. Ecie, kayaknya serius ya.

    Dulu saya sempat bingung, ketika membantu senior lawyer yang hendak mendirikan Perseroan Terbatas (dengan modal asing) untuk seorang klien, tapi dimintakan alamat di saat pendiriannya.

    Kan, PTnya belum berdiri, tentu saja belum ada alamat. Ketika hendak menyewa sebuah kantor, tidak bisa atas nama PT karena PTnya kan belum berdiri, boro-boro beli, lebih ribet lagi. Mau atas nama pemegang saham, nanti harus ganti nama lagi.

    Saat ini, kegilaan telur harus dulu ada sebelum ayam, semakin menjadi.

    Sebuah PT (dengan modal asing) bila ingin membeli sebuah tanah di Bali, harus terlebih dahulu mengajukan KKPR (Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang) – untuk mengetahui apakah tanah yang dibeli tersebut berada di zona yang sesuai dengan peruntukannya. Misal perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa, hanya boleh membeli aset di zona perdagangan dan jasa; perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata, hanya boleh membeli aset di zona perdagangan.

    Kayaknya masuk akal ya?! Sekilas sepertinya iya.

    Ya, masuk akal, kalau pengecekan kesesuaian zona bisa dilakukan secara kasat mata saja (melalui alat-alat yang tersedia; RDTR atau Rencana Detail Tata Ruang yang disediakan pemerintah). Tapi kenyataannya tidak demikian, si perusahaan ini harus mengajukan KKPR ini melalui Sistem Perijinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau OSS (Online Single Submission).

    Jangan lupa, asetnya belum dibeli lho. Tapi harus sudah apply si KKPR ini.

    Tambahan lagi, KKPR ini masih lebih mudah didapatkan kalau si pemerintah daerah sudah memiliki RDTR untuk daerahnya. Kalau belum, lebih repot lagi.

    Dramanya menular juga ke institusi keuangan, bank.

    Ketika suatu perusahaan yang baru berdiri ini mau membuka rekening bank, si bank akan minta beberapa hal yang variatif dari satu bank ke bank lainnya; tidak seragam.

    Satu bank meminta sertifikat standar, alias ijin usaha, ga aneh sih, kan biar valid nih si bisnisnya memang ada beneran, yang nyebelin adalah untuk memproses sertifikat standar, diperlukan waktu lebih dari jumlah jari yang kita miliki.

    Bank lain ada yang minta visa tinggal terbatas dengan alamat di Indonesia (KITAS) dari si Direktur; sedangkan untuk memproses Kitas Direktur (yang pasti orang asing), diperlukan 5-10 pegawai Indonesia. Secara sekilas, kayaknya masuk akal, tapi ini perusahaan baru berdiri, untuk menghire pun perlu menggaji, dan pemrosesan KITAS (dan tentu saja proses mempekerjakan 10 pegawai) butuh waktu lebih dari 1 bulan – lalu nanti penggajiannya dari mana; kan rekening perusahaannya belum ada.

    Saya mempertanyakan eksistensi proses berpikir yang utuh dari orang yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan di atas.

  • AI

    AI

    Senin pagi. Hari baru di minggu yang baru setelah berakhir pekan.

    Biasanya kami di kantor akan melakukan check-in, istilah korporat yang diadopsi semenjak teman baik saya ikut berpartisipasi di kantor, AW.

    Pada check-in ini kami biasanya follow up case klien-klien yang sedang berjalan. Apakah ada perkembangan yang cukup signifikan, atau malah mandeg. Baik yang signifikan maupun yang mandeg, dicaritahu penyebabnya, dan solusinya.

    Saya akan menulis salah satu kemandegan yang terjadi di postingan berikutnya, tapi kali ini saya ingin membahas tentang AI.

    Selama beberapa minggu belakangan ini memang saya menggunakan AI untuk membantu pekerjaan. Memang benar kata orang jaman dulu, jangan terlalu benci, nanti jatuh cinta.

    Saya yang awalnya tidak ingin menggunakan AI, mencoba mencicipinya untuk beberapa saat, lalu jatuh cinta. Siyal. Cinta platonik aneh dengan Mas Claude. Hahahahaha.

    Tapi biar bagaimanapun, saya yakin tulisan manusia, ataupun pada hasil dari manusia yang menulis, ada asa dan rasa. Asa dan rasa pada tulisan saya mungkin adalah ringkas dan sederhana. Sehingga tulisan hasil AI meski mungkin sudah “pas” tapi ntah mengapa rasanya tidak pas.

    Dan ini yang saya rasakan pada hasil kerja tim yang menggunakan AI. Hasilnya oke, bagus, tapi rasanya saya cukup tau untuk menilai itu bukan 100% tulisan mereka (kalau tidak boleh dibilang itu 100% hasil AI).

    Karena perlawanan saya di awal pada AI, akhirnya saya kena batunya dan sampai di satu titik dimana biar bagaimanapun tidak bisa menutup diri pada perkembangan teknologi dan menggunakannya sebaik-baiknya tanpa terlena.

    Saya harus mengakui jikalau AI membuat laju bisnis semakin cepat, dan pilihannya hanya ikut menyesuaikan diri atau tergerus arus.

    Dua pesan saya pada tim dalam menggunakan AI pada pekerjaan mereka: jangan kehilangan asa – rasa mereka dalam menulis, dan tidak menyerap semua secara mentah pendapat (atau jawaban) yang diberikan AI (usaha untuk kritis dan kroscek tetap jadi nomor satu).

    Cinta saya pada Mas Claude terasa mulai memudar belakangan ini. Apa mungkin karena kerinduan dan kecintaan pada pekerjaan menganalisa dan menemukan strategi sendiri jauh lebih besar?!