Dan mungkin, blog ini adalah pelarian saya.
Dulu, rasanya mudah sekali ketika menghapus aplikasi Twitter. Saya lebih sering merasa tenggelam dan merasa kecil, ketika masuk aplikasi Twitter., ketimbang merasa tercerahkan atau lainnya.
Kemudian, cukup berat saat menghapus akun Facebook sekaligus aplikasinya (akun saya saat ini adalah akun baru).
Yang berat, karena waktu itu saya cukup keranjingan membeli barang-barang secondhand di Facebook. Maklum, saya sedang menempati rumah kontrakan dan perlu diisi meski kondisi keuangan tidak terlalu stabil. Saat itu juga, awal-awal saya resign dari pekerjaan kantoran karena ingin membersamai tumbuh kembang anak sulung saya, dan acara-acara untuk anak prasekolah dapat dengan mudah ditemukan di Facebook.
Tapi rasa berat itu kalah oleh ketidaksanggupan saya melihat perseteruan teman-teman saat perhelatan Pilkada Jakarta, di mana Ahok adalah salah satu kandidatnya. Lebih tepatnya, saya tidak sanggup melihat kebodohan orang-orang yang berdebat.
Karena tahu saya cukup bodoh dan mudah terperangkap dalam candu media sosial, saya sama sekali tidak menggunakan Tiktok.
Tidak dengan Instagram. Hubungan love and hate saya dengan Instagram cukup pelik. Entah sudah berapa kali di-uninstall dan di-reinstall. Kali ini (sejak Maret 2026), putusnya hubungan kami cukup serius. IHIY!!!!

Tapi, saya harus punya pengganti. Kalau tidak, siklus uninstall dan reinstall akan terulang.
Saya memilih Netflix.
Saya bukan fans berat film. Kecuali film berseri. Iya, film seri Korea.
Saya pikir beralih ke Netflix akan lebih baik untuk memperluas rentang perhatian dari “kecanduan” Reels 60 detik Instagram ke film berseri dengan durasi minimal 50 menit.
Cukup menantang, karena saya masih sempat merasa cepat bosan dan menaikkan kecepatan putar menjadi 1,25–1,5x.
Hingga terakhir, saya menonton “We Are All Trying Here”, yang sedang ditayangkan. Artinya saya bisa mencegah diri dari menonton seluruh seri film secara maraton dan harus sabar menunggu episode selanjutnya yang tayang minggu berikutnya.
Buat saya, film ini bagus, dan saat menontonnya, saya jadi memandang hina film cinta menye-menye, hahahaha. Saya lalu memutuskan film “We Are All Trying Here” menjadi film seri terakhir yang akan saya tonton sebelum puasa (setidaknya saat ini dan selama beberapa tahun ke depan, seperti yang sudah-sudah) dan tidak menonton film seri lain.

Kira-kira sampai kapan saya bisa detox dari media sosial? Nanti saya update di sini. Doakan yang panjang ya. Terima kasih. 🙂