Istimewa, apa adanya.

Written by

in

Beberapa waktu lalu, saya menonton podcast Raditya Dika bersama dr. Tirta dan dr. Gia. Sebagai orang yang berhenti mengagumi sosok orang sejak Aa Gym berpoligami,

ditambah lagi menonton podcast sama sekali bukan kesenangan saya, saya menonton bukan karena ngfans sama salah satunya atau semuanya. Iseng saja.

Yang cukup menarik adalah mendengar satu pernyataan dari dr.Gia soal kecilnya peluang kita (manusia) hidup di dunia ini—ada di menit 40 (kalau mau langsung nonton dan dengerin percakapan soal ini). Kalau peluang manusia mati adalah 100%, peluang manusia hidup itu hanya 0,000000…1 (ntah berapa banyak nol).

Ketika hamil anak pertama, saya cukup rajin membaca beberapa buku tentang kehamilan dan parenting. Salah satu inti buku yang cukup membuat terpana adalah bahwa setiap anak istimewa, karena merupakan hasil dari pertemuan satu sel sperma dan satu sel telur. Satu sel spermanya berasal dari puluhan juta sperma yang bersama-sama mengarungi perjalanan di dalam organ reproduksi wanita. Persis seperti apa yang dibicarakan dr. Gia.

Satu banding tiga hingga empat puluh juta sel sperma.

KEREN BANGET KAN?!

Sedemikian istimewanya seorang manusia.

Jadi, semua manusia yang hidup di dunia ini, yang kita temui sepanjang hari mulai dari membuka mata sampai menutup mata, semuanya adalah produk istimewa.

Tanpa perlu merasa istimewa, atau mendapat perlakuan istimewa, atau menginginkan perasaan diistimewakan; kita sudah istimewa sejak awal.

Dan, semua itu kemudian membuat saya berpikir. Ketika semua orang istimewa, bukankah berarti menjadi istimewa adalah hal yang biasa saja?!

Setiap dari kita, istimewa dan biasa saja pada saat yang bersamaan.